WELCOME TO BOESLIH BLOGSPOT

Minggu, 20 Maret 2011

TEROR BOM BUKU

Jakarta - Hampir semua pejabat pemerintah dan aparat keamanan mengatakan bahwa pengirim paket bom buku adalah pemain lama dari jaringan teroris di Indonesia. Namun pengamat intelijen AC Manullang menilai pengirim paket bom-bom itu adalah pemain baru dan upaya tokoh di Jakarta yang membuat deception intelligence atau pengalihan isu.

“Kalau para pejabat negara kita, dan apa itu lembaga anti teror kita mengatakan bahwa ini pemain lama, itu enggak betul. Kalau intelijen abad lalu tugasnya melakukan penyelidikan, penyidikan dan sampai penuntutan. Tapi abad sekarang sudah berubah, yaitu di dunia intelijen dikembangkan yang namanya deception intelligence atau penyesatan intelijen atau isu. Ini yang mereka tidak mengerti,” kata Manullang yang juga mantan Direktur Badan Koordinasi Intelijen Negara (BAKIN) sekarang Badan Intelijen Negara (BIN) dalam perbincangan dengan detikcom, Sabtu (19/3/2011).

Menurut Manullang, aksi terorisme di Indonesia seperti paket bom buku adalah bagian dari sebuah skenario besar. Skenario besar itu adalah bagian dari grand strategi global yang ingin mencitrakan dunia Islam dengan gerakan terorisme.

“Makanya Islam diobok-obok dengan dimasukan neo liberal dan kapitalisme. Ini mengusung orang kepada depancasila, de-UUD 1945 yang menjurus ke dedemokrasi dan kepersoalan HAM segala. Orang ekstrim ini akan disebut anti Pancasila, padahal tidak juga. Ini semua dialihkan agar semua masyarakat resah,” terangnya.

Terkait pelaku teror paket bom buku, Manullang meyakini, upaya penyesatan intelijen atau isu yang dilakukan orang tertentu terhadap Islam dan isu besar lainnya, seperti perang melawan narkoba di Indonesia saat ini.

“Ini ada upaya-upaya dari orang-orang tertentu, terutama di kota besar seperti Jakarta yang melakukan deception intelligence ini, untuk mengubah bahwa ideology Islam itu teroris. Ini bahaya. Sekarang ini, pemerintah dan semuanya harus waspada,” tegasnya lagi.

Kelompok teroris, lanjut Manullang, tentunya sama kerjanya dengan pihak intelijen resmi negara. Hanya saja, dia tidak memiliki agen, dan satu sama lainnya kemungkinan tidak saling mengenal, kecuali kelompok kecil.

“Tapi yang jelas koordinatornya satu. Ini ada sponsornya dan ini yang harus diungkap,” pintanya.

Deception Intellegence yang paling kentara saat ini, terang Manullang, terlihat dalam kasus bocoran laporan Wikileaks. Dirinya merasa heran kenapa pemerintah dan sejumlah kalangan harus menuntut pemerintah AS minta maaf, dan kenapa pemerintah AS malah minta maaf juga. Padahal, Wikileaks itu bukan milik dan berpusat di AS itu sendiri.

“Ya sama itu dengan teroris. Ini pemain baru. Kenapa kasus paket bom buku di Komunitas Utan Kayu, BNN, rumah Yapto dan di Pondok Indah mudah terbaca targetnya. Padahal di dunia intelijen dan teroris ini tidak pernah ada target dan pesan yang jelas terbaca,” ungkapnya.

Diakui Manullang, kasus paket bom buku yang saat ini terjadi mengesankan tidak adanya koordinasi di antara aparat keamanan dan intelijen. Pasalnya ini ada jaringan lain yang bermain, dan masalahnya pemerintah melalui aparat keamanan dan intelijen tidak memiliki kontrol subversif seperti UU Subversif di era Orde Baru.

“Dulu ada UU itu, setiap orang yang diduga akan melakukan perongrongan langsung dibabat. Ini juga harus ada kontra intelijen, itu yang tidak ada. Dulu sebelum bergerak saja sudah ditangkapi. Apa yang terjadi di KUK, BNN, di Jagakarsa dan Pondok Indah membuktikan kontra intelijen tidak ada,” ucapnya.

Manullang balik bertanya apa pentingnya pengirim paket bom buku untuk membunuh Ulil Abshar Abdala, Komjen Pol Gories Mere, Yapto dan Dhani Ahmad?

“Siapa yang mau bunuh Gories Mere? Emangnya dia penting? Kalau kita tahu aksi teroris tidak pernah punya target seperti ada yang mau bunuh Presiden SBY, tapi itu tidak ada. Begitu juga paket bom ke Ulil dan lainnya,” terangnya lagi.

Manullang hanya mengatakan motif para pelaku pengirim bom buku ini dilatarbelakangi ketidakpuasan terhadap pemerintahan sekarang. Contohnya, pemerintahan sekarang dianggap tidak pernah mau memahami yang dinilai sepele. Misalnya kasus kisruh di PSSI, karena tidak puas didemo, foto Nurdin Halid
dibakar dan sebagainya. “Ini sama semua,” pungkasnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar